Kamis, 11 Agustus 2011

PENGARUH MIKORIZA INDIGENOUS GULMA TERHADAP KERAPATAN GULMA PADA TANAMAN JAGUNG


PENGARUH MIKORIZA INDIGENOUS GULMA TERHADAP KERAPATAN GULMA PADA TANAMAN JAGUNG

Effect of Weed Indigenous Mycorrhiza to Weeds Density in Maize Plantation

Halim

Jurusan Agroteknologi Fakultas Pertanian Universitas Haluoleo Kendari

ABSTRACT

The research on the effet of mycorrhiza indigenous of weed to weed density  has carried out at Jatinangor West Java on August untill November 20008. The statistical method used in the this research was randomized block design with three replications. The research showed that important value of broads leaves at tillage are Lantana camara (L.) as 2,93 %, Mimosa pudica (L.) as 2,50 %, Ricinus communis (L.) as 2,46 %), Solanum torvum SW as 2,46 %, and Eupatorium odorata (L.) as 2,03 %. The important value of grasses are Imperata cylindrica (L.) Beauv as 1,61 % and Sacciolepis indica (L.) Chase as 1,47 %. Thus important value of sedges is Cyperus rotundus (L.) as 1,90 %. For 14 HST, important value of board leaves are Momordica charantia (L.) as 6,58 %, Ricinus communis (L.) as 3,62 %, Polygonum longisetum De Br as 3,34 % and Ageratum conyzoides (L.) as 3,34 %. The important value of grasses are Eleusine indica (L.) Gaertn as 1,78 % dan Cynodon dactylon (L.) Pers as 1,37 %.

Key words : mycorrhiza indigenous, weed, important value, , grasses, sedges
      
PENDAHULUAN

Kehadiran gulma pada areal tanaman jagung sangat berpengaruh terhadap hasil panen. Hal ini terjadi karena gulma memiliki kemampuan berkompetisi yang tinggi dalam memperoleh air, unsur hara, cahaya matahari, CO2, dan tempat tumbuh (Rao, 2000). Kompetisi merupakan interaksi antara dua individu yang sejenis maupun berlainan jenis yang menimbulkan pengaruh negatif bagi keduanya akibat pemanfaatan secara bersama-sama sumberdaya yang terbatas (Sastroutomo, l990). Dengan demikian, maka gulma-gulma yang tumbuh pada areal tanaman jagung harus dikendalikan sebelum menimbulkan kerugian dengan mempertimbangkan tingkat kepadatan populasi gulma (Omafra, 2007).
Kehilangan hasil tanaman jagung akibat kompetisi dengan gulma berkisar antara 16 % - 62 % (Bangun dan Syam, 1988), 40 % - 50 % (Michael et al.., 1999), 75 % (Dalley et al.., 2000), 90 % - 95 %  (Violic, 2000 ; Harrison et al.., 2001),      20 % - 80 % (Bilman, 2001), 35 % - 40 % (Nedim et al.., 2004) serta 25 % - 50 % (Hartzler dan Pringnitz, 2005). Variasi kehilangan hasil tanaman tersebut salah satunya ditentukan oleh periode kritis tanaman (Kevin et al.., 2007). Periode kritis tanaman mulai terjadi pada umur 20 – 45 hari setelah tanam (Moenandir, 1993a), sejak tanaman tumbuh sampai periode  atau  dari umur tanaman (Ferrero et al.., 1996 ;  Hartzler  dan  Pringnitz, 2005),  serta  pada  umur  14 – 56  hari  setelah
 

Alamat Korespondensi,  E-mail: haliwu_lim@yahoo.co.id
tanam (Utomo et al.., 2004). Jagung yang ditanam secara monokultur dengan masukan rendah tidak dapat  memberikan hasil panen yang optimum akibat persaingan intensif dengan gulma (Clay dan Aquilar, 1998). Oleh karena itu, gulma yang tumbuh pada areal tanaman jagung apabila dibiarkan tanpa dilakukan pengendalian, maka gulma tersebut akan memiliki potensi untuk berkompetisi dengan tanaman.
Pengendalian gulma secara bijaksana dapat mempertahankan keberadaan mikroorganisme di dalam tanah yang berasosiasi dengan perakaran, khususnya mikroorganisme yang berguna bagi pertumbuhan tanaman (Gupta dan Shubhashree, 2004). Salah satu mikroorganisme yang berasosiasi dengan perakaran gulma adalah fungi mikoriza, yang secara umum ditemukan berasosiasi dengan sekitar 80 % - 90 % jenis tumbuhan (Brundrett, 1999a ; Harrier, 2003 ; Miyasaka et al.., 2003), dan bahkan 90 % - 95 % yang tersebar di daerah artik sampai ke daerah tropis dan dari daerah gurun pasir sampai ke daerah hutan (Setiadi, 1998 ; Gupta dan Shubhashree, 2004). Menurut Gonzalo dan Miguel (2006), asosiasi antara fungi mikoriza dengan perakaran tumbuhan bersifat mutualisme yaitu keduanya saling menguntungkan. Fungi mikoriza dapat memanfaatkan eksudat akar tumbuhan sebagai sumber karbon dan energi, sedangkan tumbuhan lebih mudah menyerap unsur hara, khususnya unsur hara P (Preston, 2007).

BAHAN DAN METODE

Waktu dan Tempat. Penelitian ini dilaksanakan di Kebun Percobaan Program D-III Agribisnis  Fakultas Pertanian dan Laboratorium Struktur Tumbuhan Jurusan Biologi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Padjadjaran Jatinangor Bandung yang dimulai pada bulan Agustus sampai dengan bulan November 2008.
Bahan dan Alat. Bahan-bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah propagul mikoriza, benih jagung, pupuk NPK Mutiara (25 % N, 7 % P2O5 dan 7 % K2O), air aquades, formalin acero-alkohol (FAA), larutan KOH 10 %, H2O2 10 % larutan HCl 1 %, carbol fuchin 0,05 %, dan kertas saring. Alat-alat yang digunakan yaitu alat, meteran, kamera digital, saringan (ukuran mesh 500 µm, 250 µm, 90 µm dan 50 µm), slang untuk menyiram tanaman, timbangan analitik, mikroskop, alat penangas air, gelas ukur, petridish, gunting, pipet, termohygrometer serta alat tulis menulis.
Metode Penelitian. Rancangan percobaan yang digunakan dalam penelitian ini adalah Rancangan Acak Kelompok (RAK). Perlakuan yang diuji adalah bobot propagul mikoriza indigenous gulma Imperata cylindrica (IC) dan Eupatorium odorata (EO) yang diinokulasikan pada setiap lubang tanam terdiri dari sepuluh perlakuan yaitu : 0 (tanpa inokulasi propagul mikoriza sebagai kontrol (A0), 10 g propagul mikoriza indigenous gulma IC (A1), 15 g propagul mikoriza indigenous gulma IC (A2), 20 g propagul mikoriza indigenous gulma IC (A3), 10 g propagul mikoriza indigenous gulma EO (A4), 15 g propagul mikoriza indigenous gulma EO (A5), 20 g propagul mikoriza indigenous gulma EO (A6), 10 g propagul mikoriza indigenous gulma IC  + 10 g propagul mikoriza indigenous gulma EO (A7), 15 g propagul mikoriza indigenous gulma IC  + 15 g propagul mikoriza indigenous gulma EO (A8) dan 20 g propagul mikoriza indigenous gulma IC  + 20 g propagul mikoriza indigenous gulma EO (A9). Inokulasi mikoriza indigenous dilakukan bersamaan dengan penanaman jagung. Letak propagul mikoriza indigenous gulma berada di bawah benih tanaman jagung. Variabel yang diamati adalah sebagai berikut :

(1).  Nisbah Jumlah Dominansi (NJD) gulma yaitu nilai penting dibagi jumlah besaran. Pengamatan dilakukan sebanyak tiga kali yaitu pada awal pembukaan lahan, pada umur 14 HST dan 56 HST dengan menggunakan rumus yang dikemukakan oleh (Chaves dan Bhadanari, 1982) :

Kerapatan relatif suatu jenis  =                   
 
                                                          Nilai kerapatan mutlak suatu golongan
                                                                                                                                                              X 100 %
                                                            Ju     Total nilai kerapatan mutlak semua golongan
                  

                                               
Frekuensi relatif suatu jenis  =                   
 
                     Nilai frekuensi mutlak satu golongan
                                                                                                                                                                X 100 %       
              p.                                                    Total nilai frekuensi untuk semua jenis gulma
                                                                                                       
Dominansi relatif suatu jenis  =                  
 
          Nilai dominansi satu golongan
                                                                                                                                                              X 100 %
                                                                     Total nilai dominansi semua jenis gulma
        
Nilai penting suatu jenis = Kerapatan Relatif + Frekuensi Relatif +  Dominansi Relatif. Sedangkan  NJD =  Nilai penting/3. Jenis gulma yang mempunyai nilai NJD terbesar berarti gulma tersebut merupakan gulma dominan pada petak yang diamati.

(2).  Persentase penutupan gulma diamati pada umur 14, 28, 42, dan 56 hari setelah tanam (HST), dengan menaksir luas permukaan tanah yang tertutup oleh bagian gulma seperti daun dan batang pada setiap petak percobaan (Melati, 2007). Hasil pengamatan dikonversikan ke dalam persentase penutupan gulma berdasarkan kriteria yang dikemukakan oleh Mueller dan Ellenberg (1974). Persentase dan kriteria penutupan gulma tertera pada Tabel 2.

Tabel 1. Persentase dan Kriteria Penutupan Gulma
No.
Persentase Penutupan Gulma (%)
Kriteria Penutupan Gulma
1.
0 – 5 %
Sangat jarang
2.
6 – 25 %
Jarang
3.
26 – 50 %
Sedang
4.
51 – 75 %
Rapat
5.
76 – 100 %
Sangat rapat


HASIL

Nisbah Jumlah Dominansi .Nisbah Jumlah Dominansi (NJD) untuk setiap jenis gulma pada awal pembukaan lahan, umur 14 HST dan 56 HST tertera pada Tabel 2, 3 dan 4.







Tabel 2. Nisbah Jumlah Dominansi Gulma (%) pada Awal Pembukaan Lahan

No.
Jenis Gulma
Nisbah Jumlah Dominansi (NJD)
(%)
Golongan Berdaun Lebar
1.
Lantana camara (L.)
8,80
2.
Mimosa pudica (L.)
7,49
3.
Ricinus communis (L.)
Solanum torvum SW
7,39
7,39
4.
Eupatorium odorata (L.)
6,08
5.
Sida rhombifolia (L.)
4,41
6.
Toumefortia argenthea (L.)
3,88
7.
Euphorbia hirta (L.)
3,48
8.
Bidens pilosa (L.) var. Minor
Polygonum longisetum De Br
3,04
3,04
9.

Ageratum conyzoides (L.)
Erigeron sumatrensis Retz
Mimosa pigra (L.)
2,60
2,60
2,60
10.
Centrosema plumieri (Pers) Beath
1,08

Golongan Rumput-Rumputan

1.
Imperata cylindrica (L.) Beauv
Phragmintes karka (Retz) Trus
4,84
4,84
2.
Sacciolepis indica (L.) Chase
4,41
3.
Eleocharis ochrostachys Steud
2,60

Golongan Teki

1.
Cyperus rotundus (L.)
5,72
2.
Cyperus iria (L.)
2,60

Nisbah Jumlah Dominansi
100

Berdasarkan Tabel 2, jenis gulma dari golongan berdaun lebar yang memiliki nilai penting tertinggi dan dianggap sebagai gulma dominan adalah Lantana camara (L.)  (2,93 %), Mimosa pudica (L.) (2,50 %), Ricinus communis (L.), (2,46 %), Solanum torvum SW (2,46 %), dan gulma Eupatorium odorata (L.) (2,03 %). Pada gulma golongan rumput-rumputan, yang dominan adalah Imperata cylindrica (L.) Beauv (1,61 %) dan Sacciolepis indica (L.) Chase (1,47 %). Sedangkan pada gulma golongan teki, yang dominan adalah Cyperus rotundus (L.) (1,90 %). Untuk mengetahui pergeseran jenis gulma setelah pembukaan lahan, maka dilakukan analisis vegetasi pada umur 14 HST. Nisbah Jumlah Dominasi (%) Gulma pada Umur 14 HST tertera pada Tabel 3.
Jumlah gulma yang ditemukan pada awal pembukaan lahan lebih banyak jika dibandingkan dengan pengamatan pada umur 14 HST. Jenis-jenis gulma dari golongan berdaun lebar yang ditemukan pada awal pembukaan lahan tetapi tidak ditemukan pada umur 14 HST adalah Bidens pilosa (L.) var. Minor, E. odorata (L.), Erigeron sumatrensis Retz, Lantana camara (L.), Toumefortia argenthea (L.), Mimosa pigra (L.), Mimosa pudica (L.), Sida rhombifolia (L.) serta Solanum torvum SW. Pada gulma golongan rumput-rumputan yaitu Eleocharis ochrostachys Steud,  serta Sacciolepis indica (L.) Chase.  Pada gulma golongan teki yaitu Cyperus iria (L.). Sedangkan jenis-jenis gulma dari golongan berdaun lebar yang ditemukan pada umur 14 HST dan tidak ditemukan pada awal pembukaan lahan yaitu Amaranthus gracilis Desf, Ipomea triloba (L.), Euphorbia hypericifolia (L.), serta Momordica charantia (L.). Pada gulma golongan rumput-rumputan yaitu Cynodon dactylon (L.) Pers dan Eleusine indica (L.) Gaertn.

Tabel  3.  Nisbah Jumlah Dominasi (%) Gulma pada Umur 14 HST

No.
Jenis Gulma
Perlakuan
Golongan Berdaun Lebar
A0
A1
A2
A3
A4
1.
Ageratum conyzoides (L.)
5,75
6,89
 7,36
14,08
11,75
2.
Amaranthus gracilis Desf
6,62
5,62
 6,61
6,09
7,14
3.
Ipomea triloba (L.)
6,33
5,62
 6,86
6,63
7,81
4.
Centrosema plumieri (Pers) Beath
5,18
6,89
12,45
6,91
6,79
5.
Euphorbia hirta (L.)
7,78
5,97
 6,36
6,91
8,14
6.
Euphorbia hypericifolia (L.)
6,04
6,89
 6,61
0,00
8,47
7.
Momordica charantia (L.)
19,67
16,06
25,55
21,53
10,91
8.
Polygonum longisetum De Br
6,04
15,30
  6,11
11,83
11,78
9.
Ricinus communis (L.)
7,20
14,54
22,08
5,54
12,42

Golongan Rumput-Rumputan





10.
Cynodon dactylon (L.) Pers
7,20
12,41
 0,00
0,00
0,00
11.
Eleusine indica (L.) Gaertn
6,33
6,13
 0,00
13,81
6,45
12.
Imperata cylindrica (L.) Beauv
7,78
0,00
 0,00
0,00
8,14

Golongan Teki





13.
Cyperus rotundus (L.)
7,78
0,00
0,00
6,63
0,00

Nisbah Jumlah Dominansi
100
100
100
100
100

Golongan Berdaun Lebar
A5
A6
A7
A8
A9
1
Ageratum conyzoides (L.)
14,09
  6,28
14,54
  7,57
 6,70
2.
Amaranthus gracilis Desf
  7,18
  6,56
6,99
13,14
 6,47
3.
Ipomea triloba (L.)
  7,18
  6,56
6,42
  6,72
 6,47
4.
Centrosema plumieri (Pers) Beath
  7,18
12,94
7,55
  6,99
 6,93
5.
Euphorbia hirta (L.)
  7,18
10,37
7,84
  6,14
 6,47
6.
Euphorbia hypericifolia (L.)
  0,00
12,56
6,14
  0,00
 6,70
7.
Momordica charantia (L.)
22,95
19,59
8,64
26,85
25,59
8.
Polygonum longisetum De Br
13,00
10,71
5,29
  6,14
13,87
9.
Ricinus communis (L.)
  6,90
14,27
5,58
12,86
 7,17

Golongan Rumput-Rumputan





10
Cynodon dactylon (L.) Pers
  7,18
  0,00
7,55
  0,00
 6,93
11
Eleusine indica (L.) Gaertn
  7,18
  0,00
6,71
  0,00
 6,70
12
Imperata cylindrica (L.) Beauv
  0,00
  0,00
0,00
  6,99
 0,00
13
Golongan Teki





14
Cyperus rotundus (L.)
   0,00
  0,00
14,54
  6,72
 0,00
15
Nisbah Jumlah Dominansi
100
100
100
100
100



Nilai Penting Gulma. Nilai penting gulma pada awal pembukaan lahan dan umur 14 HST tertera pada Tabel 4 dan 5.

Tabel 4.  Nilai Penting Gulma (%) pada Awal Pembukaan Lahan

No.
Jenis Gulma
Nilai Penting Gulma (%)
Golongan Berdaun Lebar
1.
Lantana camara (L.)
2,93
2.
Mimosa pudica (L.)
2,50
3.
Ricinus communis (L.)
2,46
4.
Solanum torvum SW
2,46
5.
Eupatorium odorata (L.)
2,03
6.
Sida rhombifolia (L.)
1,47
7.
Toumefortia argenthea (L.)
1,29
8.
Euphorbia hirta (L.)
1,16
9.
Bidens pilosa (L.) var. Minor
1,01
10.
Polygonum longisetum De Br
1,01
11.
Ageratum conyzoides (L.)
0,87
12.
Erigeron sumatrensis Retz
087
13.
Mimosa pigra (L.)
0,87
14.
Centrosema plumieri (Pers) Beath
0,36

Golongan Rumput-Rumputan

1.
Imperata cylindrica (L.) Beauv
1,61
2.
Sacciolepis indica (L.) Chase
1,47
3.
Eleocharis ochrostachys Steud
0,87

Golongan Teki

1.
Cyperus rotundus (L.)
1,90
2.
Cyperus iria (L.)
0,87


Hasil identifikasi terhadap vegetasi pada awal pembukaan lahan, diperoleh sebanyak 20 jenis gulma yang terdiri dari 14 jenis gulma golongan berdaun lebar, 3 jenis gulma golongan rumput-rumputan dan 2 jenis gulma golongan teki.
Hasil analisis vegetasi pada umur 14 HST, diperoleh sebanyak 13 jenis gulma yang terdiri dari 9 jenis gulma dari golongan berdaun lebar, 3 jenis gulma dari golongan rumput-rumputan dan 1 jenis gulma dari golongan teki. Jenis gulma dari golongan berdaun lebar yang memiliki nilai penting tertinggi dan dianggap sebagai gulma dominan adalah Momordica charantia (L.) sebesar 6,58 %, Ricinus communis (L.) sebesar 3,62 %, Polygonum longisetum De Br sebesar 3,34 % serta Ageratum conyzoides (L.) sebesar 3,34 %. Sedangkan jenis gulma dari golongan rumput-rumputan yang memiliki nilai penting tertinggi adalah Eleusine indica (L.) Gaertn sebesar 1,78 % dan Cynodon dactylon (L.) Pers sebesar 1,37 %. Nilai Penting Gulma (%) pada Umur 14 HST tertera pada Tabel 5.
Jumlah gulma yang ditemukan pada awal pembukaan lahan lebih banyak jika dibandingkan dengan pengamatan pada umur 14 HST. Jenis-jenis gulma dari golongan berdaun lebar yang ditemukan pada awal pembukaan lahan tetapi tidak ditemukan pada umur 14 HST adalah Bidens pilosa (L.) var. Minor, Eupatorium odorata (L.), Erigeron sumatrensis Retz, Lantana camara (L.), Toumefortia argenthea (L.), Mimosa pigra (L.), Mimosa pudica (L.), Sida rhombifolia (L.) serta Solanum torvum SW. Pada gulma golongan rumput-rumputan yaitu Eleocharis ochrostachys Steud,  serta Sacciolepis indica (L.) Chase. 
Tabel 5.  Nilai Penting Gulma (%) pada Umur 14 HST
No.
Jenis Gulma
Nilai Penting Gulma (%)
Golongan Berdaun Lebar
1.
Momordica charantia (L.)
6,58
2.
Ricinus communis (L.)
3,62
3.
Polygonum longisetum De Br
3,34
4.
Ageratum conyzoides (L.)
3,12
5.
Centrosema plumieri (Pers) Beath
2,66
6.
Euphorbia hirta (L.)
2,44
7.
Amaranthus gracilis Desf
2,41
8.
Ipomea triloba (L.)
2,22
9.
Euphorbia hypericifolia (L.)
1,78

Golongan Rumput-Rumputan

1.
Eleusine indica (L.) Gaertn
1,78
2.
Cynodon dactylon (L.) Pers
1,37
3.
Imperata cylindrica (L.) Beauv
0,76

Golongan Teki

1.
Cyperus rotundus (L.)
1,19

Share it